MediaNanggroe.com – Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh, Agus Chusaini, menegaskan bahwa perekonomian Aceh kini telah memasuki fase pemulihan setelah mengalami tekanan berat sepanjang 2025 akibat bencana, gangguan infrastruktur, dan perlambatan aktivitas ekonomi.
Pernyataan tersebut disampaikan Agus Chusaini dalam kegiatan bincang bareng bersama awak media, Selasa, 21 Januari 2026, di Banda Aceh. Meski mulai membaik, ia mengakui tekanan ekonomi sepanjang 2025 tergolong sangat berat dan tercermin dari lonjakan inflasi serta melambatnya pertumbuhan ekonomi daerah.
Berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, inflasi Aceh pada Desember 2025 melonjak hingga 6,71 persen (year on year/yoy). Secara bulanan, inflasi Desember 2025 tercatat naik tajam sebesar 3,60 persen (month to month/mtm), jauh di atas rata-rata inflasi Desember dalam tiga tahun terakhir yang hanya 0,53 persen.
Lonjakan inflasi tersebut dipicu oleh bencana hidrometeorologi yang melanda 18 kabupaten/kota di Aceh pada akhir 2025. Bencana ini berdampak luas terhadap sektor pertanian, perdagangan, serta melumpuhkan sistem distribusi logistik akibat rusaknya infrastruktur.
Secara spasial, tekanan inflasi terjadi hampir merata. Aceh Tengah menjadi daerah dengan inflasi tertinggi sebesar 8,90 persen, disusul Aceh Tamiang 7,13 persen dan Banda Aceh 6,10 persen. Kenaikan harga terutama didorong oleh komoditas strategis, dengan penyumbang inflasi terbesar berasal dari beras (andil 1,06 persen), emas perhiasan (0,79 persen), cabai merah (0,38 persen), ikan tongkol (0,35 persen), serta ikan dencis (0,31 persen).
Dari sisi pertumbuhan ekonomi, Aceh pada 2025 diprakirakan hanya tumbuh di kisaran 3,50 hingga 4,40 persen (yoy). Realisasi pada Triwulan III 2025 tercatat 4,46 persen, masih tertinggal dibandingkan pertumbuhan Sumatera sebesar 4,90 persen dan nasional 5,04 persen.
Melambatnya pertumbuhan ini tidak terlepas dari besarnya dampak kerusakan fisik akibat bencana. Data mencatat 468 jembatan terputus dan 1.593 titik jalan mengalami kerusakan, sehingga mengganggu distribusi logistik. Di sektor pertanian, sekitar 56.652 hektare sawah terdampak. Dari sisi sosial, bencana ini memengaruhi 2.583.376 jiwa dan merusak 148.339 rumah warga.
Di tengah tekanan domestik tersebut, kinerja perdagangan luar negeri Aceh hingga November 2025 masih ditopang oleh komoditas unggulan. Ekspor Aceh didominasi oleh batubara dengan pangsa 66,78 persen dan kopi 12,11 persen, sementara impor masih didominasi oleh migas sebesar 87,14 persen.
Sementara itu, sektor keuangan juga ikut merasakan dampak. Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat mengalami kontraksi pada Triwulan IV 2025 dengan pertumbuhan minus 1,51 persen (yoy). Meski demikian, penyaluran pembiayaan perbankan masih tetap tumbuh positif, meskipun melambat dibandingkan periode sebelumnya.
Untuk meredam tekanan inflasi dan mempercepat pemulihan ekonomi, Bank Indonesia bersama Pemerintah Daerah telah menempuh sejumlah langkah strategis. Di antaranya melalui Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) dengan penyaluran 36 ton telur ayam ras dan 40 ton minyak goreng, serta Kerja Sama Antar Daerah (KAD) yang memasok 120 ton cabai merah dan 40 ton beras pada Desember 2025. Selain itu, perbankan juga memberikan relaksasi pembayaran kredit bagi masyarakat terdampak bencana.
Memasuki 2026, Agus menyampaikan optimisme bahwa ekonomi Aceh akan terus membaik. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Aceh berada pada kisaran 3,60 hingga 4,50 persen (yoy), didorong oleh percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur, normalisasi distribusi logistik, serta mulai pulihnya aktivitas ekonomi masyarakat pascabencana.
Dengan sinergi pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan seluruh pemangku kepentingan, pemulihan ekonomi Aceh diyakini akan terus menguat sepanjang 2026.













Discussion about this post