BANDA ACEH — Aparat kepolisian terus memburu aktor utama di balik insiden pembakaran Gedung Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) yang terjadi pada Kamis (21/5/2026) dini hari. Hingga kini, Satreskrim Polresta Banda Aceh telah memeriksa 15 saksi dan menyita sejumlah barang bukti dari lokasi kejadian.
Kasus yang diduga dipicu bentrokan antar kelompok mahasiswa itu menyebabkan kerusakan besar di lingkungan kampus. Selain gedung Fakultas Pertanian, pos satpam, tiga unit sepeda motor, dan satu unit mobil turut hangus terbakar. Total kerugian ditaksir mencapai Rp20 miliar.
Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol Andi Kirana melalui Kasat Reskrim Kompol Miftahuda Dizha Fezuono mengatakan, penyidik masih terus mendalami keterlibatan sejumlah pihak dalam aksi perusakan dan pembakaran tersebut.
“Sebanyak 15 saksi telah dimintai keterangan terkait kejadian terbakarnya gedung serta fasilitas lainnya di Fakultas Pertanian USK,” ujar Kompol Dizha, Jumat (22/5/2026).
Dari total saksi yang diperiksa, 13 di antaranya merupakan mahasiswa, sementara satu lainnya dosen dan satu saksi pelapor. Polisi menyebut jumlah saksi kemungkinan masih akan bertambah seiring pengembangan penyidikan.
Dalam proses penyelidikan, polisi turut menyita berbagai barang bukti dari lokasi kejadian, seperti batu, kayu, kendaraan yang terbakar, hingga pecahan kaca yang diduga berasal dari bom molotov.
“Beberapa barang bukti juga telah kita sita dari TKP,” katanya.
Polisi juga akan melakukan uji Laboratorium Forensik terhadap sejumlah barang bukti untuk memastikan sumber api dan pola pembakaran yang terjadi di area kampus tersebut.
Sebelumnya, kerusuhan diduga dipicu konflik antar mahasiswa dari Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik yang telah berlangsung selama dua hari terakhir. Situasi memanas beberapa jam sebelum kebakaran terjadi.
Kasi Humas Polresta Banda Aceh Iptu Eddy Musfikar mengatakan, bentrokan awalnya berupa aksi saling serang dan pelemparan yang kemudian berkembang menjadi pengrusakan fasilitas kampus.
“Keributan berujung pada pengrusakan fasilitas kampus seperti kaca gedung serta fasilitas ruangan,” ujar Eddy.
Dua mahasiswa Fakultas Teknik dilaporkan mengalami luka-luka dan harus menjalani perawatan. Polisi menduga aksi balasan kemudian dilakukan dengan pelemparan batu dan penggunaan bom molotov yang memicu kebakaran di Fakultas Pertanian serta laboratorium.
Tim Inafis Satreskrim Polresta Banda Aceh juga telah melakukan Tindakan Pertama Tempat Kejadian Perkara (TPTKP) untuk mengumpulkan bukti dan mengidentifikasi sumber awal api.
“Kami sedang melakukan olah TKP guna mengetahui sumber awal api yang membakar Gedung Fakultas Pertanian dan fasilitas lainnya,” kata Kompol Dizha.
Polisi memastikan kasus ini akan terus dikembangkan guna mengungkap siapa pihak yang paling bertanggung jawab atas aksi pembakaran dan pengrusakan fasilitas pendidikan di kampus terbesar di Aceh tersebut.











Discussion about this post