KAIRO – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian masyarakat Indonesia, termasuk mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri. Kondisi tersebut turut dirasakan oleh mahasiswa Indonesia yang berada di Kairo, Mesir, karena berdampak langsung pada biaya hidup dan daya beli sehari-hari.
Pada awal Juni 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami tekanan hingga menembus kisaran Rp18.000 per dolar AS. Kondisi tersebut turut memengaruhi nilai tukar rupiah terhadap Pound Mesir yang menjadi mata uang utama bagi mahasiswa Indonesia yang menetap di Mesir.
Sejak April hingga Juni 2026, nilai tukar rupiah terhadap Pound Mesir tercatat mengalami pelemahan sekitar 7 persen. Jika sebelumnya mahasiswa yang menukarkan uang sebesar Rp1 juta dapat memperoleh sekitar 3.600 Pound Mesir, kini jumlah yang diterima hanya berkisar 2.800 Pound Mesir.
Penurunan nilai tukar tersebut berdampak pada meningkatnya beban biaya hidup mahasiswa. Selain harus menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok, mereka juga mengalami penurunan daya beli yang cukup signifikan.
Sejumlah mahasiswa mengaku mulai menerapkan penghematan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Bahkan, sebagian mahasiswa Indonesia di Mesir memilih mencari pekerjaan sampingan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup selama menjalani perkuliahan.
M. Dzaki Raif, mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo asal Aceh, mengatakan pelemahan rupiah telah memberikan dampak nyata terhadap kehidupan mahasiswa Indonesia di Mesir.
“Terutama untuk mahasiswa asal Indonesia di sini memang sudah sangat krisis dan kami merasa sangat kesulitan untuk biaya hidup di sini. Tapi sepertinya ini hanya dirasakan oleh mahasiswa Indonesia karena mahasiswa asal negara tetangga yang saya lihat relatif aman karena mata uang negara mereka cukup stabil,” ujarnya kepada media, 5 Juni 2026.
Menurut Dzaki, dampak yang paling terasa adalah meningkatnya biaya sewa tempat tinggal serta biaya transportasi yang turut mengalami kenaikan.
Selain itu, harga sejumlah bahan pokok di Mesir seperti beras dan telur juga mengalami kenaikan. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa yang harus mengatur pengeluaran agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.
Sementara itu, mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo lainnya, Nafal Afnan, berharap pemerintah dapat mengambil langkah strategis untuk memperbaiki kondisi perekonomian nasional serta memperkuat nilai tukar rupiah.
Ia menilai kebijakan yang tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat akan mampu meningkatkan kepercayaan investor terhadap Indonesia, sehingga berdampak positif terhadap stabilitas ekonomi nasional.
“Besar harapan saya sebagai mahasiswa Indonesia yang berada di luar negeri, tentunya berharap kepada pemerintah agar memfokuskan program-program unggulan secara tepat dan sesuai urgensinya, sehingga kepercayaan investor meningkat dan rupiah kembali berada pada posisi yang semestinya,” kata Nafal.
Para mahasiswa Indonesia di Kairo berharap kondisi ekonomi nasional dapat segera membaik sehingga tekanan terhadap biaya hidup mahasiswa yang menempuh pendidikan di luar negeri dapat berkurang dan mereka dapat lebih fokus menyelesaikan studi.













Discussion about this post