MediaNanggroe.com – Praktik pesta seks yang disertai konsumsi minuman keras (khamar) di Kabupaten Aceh Besar berujung pada hukuman cambuk bagi tujuh pelakunya. Eksekusi uqubat cambuk tersebut dilaksanakan setelah putusan Mahkamah Syar’iyah Kabupaten Aceh Besar berkekuatan hukum tetap (inkrah), di halaman Masjid Agung Al-Munawwarah, Kota Jantho, Kamis (12/2/2026).
Para terhukum dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat, masing-masing Pasal 15 tentang Jarimah Khamar, Pasal 25 tentang Jarimah Ikhtilath, serta sebagian lainnya juga terbukti melakukan jarimah zina. Putusan tersebut tertuang dalam perkara Nomor: 33/JN/2025/MS-JTH.
Berdasarkan amar putusan majelis hakim, tindak pidana jinayat berupa pesta seks dan konsumsi minuman keras itu terjadi di salah satu rumah warga di Gampong Pasheu Beutong, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, pada 21 September 2025. Aktivitas tersebut terungkap setelah masyarakat setempat mengamankan para pelaku sebelum menyerahkannya kepada aparat penegak hukum.
Eksekusi cambuk ini disaksikan langsung oleh Asisten I Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Aceh Besar, Farhan AP, Kepala Dinas Syariat Islam (DSI) Kabupaten Aceh Besar Rusdi SSos MSi, unsur Forkopimda, aparat penegak hukum, tokoh masyarakat, serta masyarakat umum.
Pada kesempatan itu, Asisten I Sekdakab Aceh Besar, Farhan AP menegaskan, penegakan Qanun Jinayat merupakan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga marwah syariat Islam di Aceh Besar.
“Pelaksanaan uqubat cambuk ini merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum dalam menegakkan Qanun Jinayat,” ujarnya.
Menurutnya, hukuman cambuk tidak hanya dimaknai sebagai bentuk sanksi, tetapi juga sebagai pembelajaran sosial agar praktik-praktik menyimpang seperti pesta seks dan miras tidak kembali terjadi di tengah masyarakat.
“Pemerintah Aceh Besar kembali mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga ketertiban dan mematuhi ketentuan Qanun Jinayat sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat di Aceh,” sebutnya.
Sementara itu, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP dan WH) Aceh Besar, Muhajir SSTP MPA memastikan seluruh proses eksekusi dilakukan sesuai prosedur hukum yang berlaku.
“Pelaksanaan uqubat cambuk ini dilakukan sesuai dengan putusan Mahkamah Syar’iyah dan mengikuti seluruh prosedur yang telah ditetapkan. Kami memastikan seluruh tahapan berjalan tertib, aman, dan sesuai aturan, termasuk pengawasan kesehatan oleh tim medis,” kata Muhajir.
Ia juga menegaskan komitmen Satpol PP dan WH Aceh Besar dalam mencegah terulangnya kasus serupa.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pelanggaran terhadap Qanun Jinayat. Penegakan hukum ini bukan untuk mempermalukan, tetapi sebagai bentuk pembinaan agar masyarakat lebih patuh terhadap aturan dan nilai-nilai syariat Islam,” pungkasnya.(*)













Discussion about this post