TAPAKTUAN – Kejaksaan Negeri Aceh Selatan mengeksekusi hukuman uqubat cambuk terhadap delapan terpidana pelanggar Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat di halaman Masjid Agung Istiqamah Tapaktuan, Kamis (2/7/2026).
Eksekusi tersebut sejatinya dijadwalkan terhadap 13 terpidana yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht). Namun, hanya delapan orang yang hadir dan dapat menjalani hukuman, sementara lima terpidana lainnya berhalangan karena sakit maupun tanpa keterangan.
Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Selatan melalui Kepala Seksi Intelijen, Roland Tampubolon, S.H., M.H., mengatakan pelaksanaan uqubat cambuk merupakan bagian dari pelaksanaan putusan Mahkamah Syar’iyah yang telah berkekuatan hukum tetap.
“Pelaksanaan eksekusi dilakukan oleh Jaksa Eksekutor bersama Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Aceh Selatan sebagai bentuk pelaksanaan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap,” kata Roland Tampubolon, Kamis (2/7/2026).
Sebelum pelaksanaan hukuman, seluruh terpidana terlebih dahulu menjalani pemeriksaan kesehatan oleh tim medis dari Puskesmas Tapaktuan. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kondisi fisik para terpidana layak menjalani uqubat cambuk.
Usai pelaksanaan hukuman, tim medis kembali melakukan pemeriksaan guna memastikan kondisi kesehatan para terpidana tetap stabil.
Berdasarkan data Kejaksaan Negeri Aceh Selatan, delapan terpidana yang menjalani eksekusi terdiri dari berbagai perkara jarimah dalam Qanun Jinayat.
Terpidana berinisial AAP menjalani 63 kali cambuk sebagai sisa hukuman dari vonis 175 kali cambuk setelah dikurangi masa tahanan dan pelaksanaan cambuk sebelumnya.
Terpidana RS menjalani 74 kali cambuk sebagai sisa hukuman dari vonis 100 kali cambuk yang sebagian telah dieksekusi sebelumnya.
Selanjutnya, terpidana F menjalani 25 kali cambuk, HS sebanyak 10 kali cambuk, MM sebanyak 31 kali cambuk setelah mendapat pengurangan masa tahanan, TIFT sebanyak 10 kali cambuk, RBP sebanyak 10 kali cambuk, dan RB sebanyak tujuh kali cambuk.
Sementara itu, lima terpidana lainnya belum dapat dieksekusi. Dua di antaranya dilaporkan sedang menjalani perawatan dan sakit, sedangkan tiga lainnya tidak hadir tanpa keterangan.
Roland menjelaskan pelaksanaan uqubat cambuk dilakukan sesuai ketentuan Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat dan Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2013 tentang Hukum Acara Jinayat.
Menurutnya, pelaksanaan hukuman tetap mengedepankan prinsip kepastian hukum, penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta memperhatikan kondisi kesehatan para terpidana.
“Setiap tahapan dilakukan sesuai prosedur yang berlaku, mulai dari pemeriksaan kesehatan sebelum pelaksanaan hingga pemeriksaan pasca-eksekusi. Hal ini untuk memastikan hak-hak terpidana tetap terpenuhi,” ujarnya.
Pelaksanaan eksekusi turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Mahkamah Syar’iyah Tapaktuan, Dinas Syariat Islam, Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Tapaktuan, Satpol PP dan Wilayatul Hisbah, tenaga kesehatan.
Melalui pelaksanaan eksekusi tersebut, Kejaksaan Negeri Aceh Selatan menegaskan komitmennya untuk melaksanakan putusan pengadilan secara profesional, transparan, dan berkeadilan sebagai bagian dari penegakan hukum serta mendukung penerapan Syariat Islam di Aceh Selatan.











Discussion about this post