Subulussalam – Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Banda Aceh (BBPOM Aceh), Riyanto, turut hadir mendampingi Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik Badan POM, Mohammad Kashuri, dalam kegiatan pembinaan dan pendampingan di Loka POM Kota Subulussalam, Rabu (05/08/2026). Kegiatan yang berlangsung di Kantor Loka POM Kota Subulussalam ini bertujuan memperkuat pelaksanaan tugas dan fungsi pengawasan obat dan makanan, sekaligus meningkatkan kapasitas organisasi dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Direktur Pengawasan Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan, Agus Yudi Prayudana, Direktur Pengawasan Kosmetik, Priharika Septyowati, Kepala Balai POM di Aceh Tengah, Pupa Feshirawan Putra, beserta jajaran Loka POM Kota Subulussalam, BBPOM Aceh, dan Balai POM di Aceh Tengah. Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam mematangkan proses transisi operasional Loka POM Kota Subulussalam sekaligus memperkuat koordinasi antarunit pelaksana teknis Badan POM di wilayah Aceh.
Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala BBPOM Aceh, Riyanto, yang menegaskan pentingnya sinergi antara Badan POM dan pemerintah daerah dalam mewujudkan pengawasan obat dan makanan yang efektif serta berkelanjutan.
“Keberhasilan pengawasan tidak hanya bergantung pada Badan POM, tetapi juga memerlukan dukungan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan. Melalui kolaborasi yang kuat, kita dapat menghadirkan sistem pengawasan yang lebih responsif sehingga masyarakat memperoleh perlindungan yang optimal terhadap produk obat dan makanan,” ujar Riyanto.
Selanjutnya, Kepala Loka POM Kota Subulussalam, Indera Permana, memaparkan capaian kinerja organisasi, perkembangan pelaksanaan tugas, berbagai inovasi, serta tantangan yang dihadapi dalam menjalankan fungsi pengawasan di wilayah kerja. Dalam paparannya disampaikan bahwa Loka POM Kota Subulussalam berhasil meraih Nilai Kinerja Organisasi (NKO) sebesar 100,53%, disertai berbagai inovasi pelayanan dan pengawasan, seperti SIPALA, SELEKTA, dan Rapid Test Corner, yang dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas pelayanan kepada masyarakat serta memperkuat deteksi dini terhadap produk yang berisiko.
Dalam arahannya, Mohammad Kashuri menegaskan bahwa keterbatasan sumber daya tidak boleh menjadi hambatan dalam menjalankan tugas pengawasan. Sebaliknya, kondisi tersebut harus menjadi pemicu lahirnya berbagai inovasi yang mampu meningkatkan efektivitas pengawasan.
“Keterbatasan sumber daya bukan alasan untuk menurunkan kualitas pengawasan. Justru di situlah inovasi harus lahir. Kita perlu memperkuat pengawasan berbasis risiko, mengoptimalkan koordinasi antarfungsi, memanfaatkan rapid test sebagai deteksi awal, serta meningkatkan komunikasi, informasi, dan edukasi kepada masyarakat agar perlindungan terhadap konsumen semakin optimal,” tegas Mohammad Kashuri.
Ia juga menekankan pentingnya membangun budaya kerja yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada hasil agar setiap unit kerja mampu menjawab tantangan pengawasan yang semakin kompleks.
Suasana diskusi berlangsung aktif dan konstruktif. Berbagai isu strategis mengemuka, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia, kebutuhan penguatan sarana pendukung, pengembangan basis data sarana, hingga strategi pengawasan pada wilayah prioritas. Menanggapi berbagai masukan tersebut, Deputi II mendorong seluruh jajaran untuk terus meningkatkan kapasitas SDM, memperkuat kolaborasi lintas fungsi, serta memanfaatkan inovasi sebagai solusi dalam menghadapi berbagai tantangan pengawasan di lapangan.
Di sela rangkaian kegiatan, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik Badan POM, Mohammad Kashuri, didampingi Kepala BBPOM Aceh, Riyanto, beserta jajaran melaksanakan koordinasi dengan Wali Kota Subulussalam, Rasyid Bancin, di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Wali Kota Subulussalam. Pertemuan tersebut menjadi momentum strategis untuk memperkuat sinergi antara Badan POM dan Pemerintah Kota Subulussalam dalam mendukung pelaksanaan pengawasan obat dan makanan, sekaligus meningkatkan perlindungan masyarakat melalui penyediaan produk obat dan makanan yang aman, bermutu, dan bermanfaat.
Dalam pertemuan tersebut, berbagai hal dibahas, mulai dari penguatan pengawasan obat dan makanan di wilayah perbatasan, dukungan pemerintah daerah terhadap operasional Loka POM Kota Subulussalam, hingga kolaborasi dalam kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi kepada masyarakat. Pemerintah Kota Subulussalam juga menyatakan komitmennya untuk terus mendukung berbagai program Badan POM sebagai bagian dari upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Wali Kota Subulussalam, Rasyid Bancin, menyambut baik kunjungan dan pembinaan yang dilakukan Badan POM serta berharap sinergi yang telah terjalin dapat terus diperkuat.
“Kami menyampaikan apresiasi atas perhatian dan pendampingan Badan POM kepada Kota Subulussalam. Kehadiran Loka POM menjadi bagian penting dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat dari peredaran obat dan makanan yang tidak memenuhi ketentuan. Pemerintah Kota Subulussalam siap mendukung penguatan pengawasan, termasuk melalui kolaborasi lintas sektor dan pemberdayaan masyarakat agar semakin sadar akan pentingnya mengonsumsi produk yang aman, bermutu, dan bermanfaat,” ujar Rasyid Bancin.
Pertemuan ditutup dengan komitmen bersama untuk terus memperkuat koordinasi dan kolaborasi antara Badan POM dan Pemerintah Kota Subulussalam dalam mendukung efektivitas pengawasan obat dan makanan, sekaligus mendorong terwujudnya masyarakat yang lebih sehat melalui sistem pengawasan yang semakin kuat dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan pembinaan ini, diharapkan Loka POM Kota Subulussalam semakin siap bertransformasi menjadi unit kerja yang mandiri, adaptif, dan tangguh dalam menghadapi berbagai dinamika pengawasan obat dan makanan. Sinergi yang semakin erat antara Badan POM, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan mampu memperkuat sistem pengawasan yang efektif serta memberikan perlindungan yang lebih optimal bagi kesehatan masyarakat, khususnya di wilayah Kota Subulussalam dan sekitarnya.













Discussion about this post