MediaNanggroe.com — Monitoring dan Evaluasi (Monev) Tim Satgas Terpadu Penanganan Bencana Banjir Bandang di Aceh mengungkap temuan penting terkait kondisi kesehatan masyarakat terdampak. Dari hasil intervensi lapangan, tim mengidentifikasi 10 penyakit terbanyak serta 10 penyakit berpotensi Kejadian Luar Biasa (KLB) yang menjadi ancaman serius pascabencana.
Kegiatan Monev yang digelar oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Banda Aceh (BBPOM Aceh) ini berlangsung di Aula BBPOM Aceh, Kamis (15/01/2026), sebagai forum evaluasi menyeluruh terhadap penanganan dampak kesehatan akibat banjir bandang di sejumlah wilayah Aceh.
Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Kepala BBPOM Aceh, Riyanto, dan dihadiri unsur lintas sektor kesehatan, mulai dari Dinas Kesehatan Aceh, Poltekkes Kemenkes Aceh, Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Banda Aceh, Sabang dan Lhokseumawe, Labkesmas Aceh, hingga organisasi profesi PATELKI, PPNI, PAEI, dan HAKLI Aceh.
Dalam sambutannya, Riyanto menegaskan bahwa banjir bandang telah berdampak signifikan terhadap kondisi kesehatan masyarakat dan infrastruktur layanan kesehatan. Ia menyebutkan bahwa Tim Satgas Terpadu telah melaksanakan Tahap 5 penanganan bencana pada 6–10 Januari 2026 di Kabupaten Aceh Tamiang.
“Rapat monitoring dan evaluasi ini sangat penting untuk meninjau capaian, kendala di lapangan, serta pembelajaran yang dapat kita jadikan dasar dalam merumuskan langkah tindak lanjut yang lebih efektif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat terdampak,” ujar Riyanto.
Ia juga menekankan bahwa aspek keamanan obat dan makanan menjadi salah satu fokus utama pascabencana. Pengawasan terhadap obat dan makanan yang didistribusikan, pemusnahan produk yang terendam banjir, pengawasan dapur umum, serta edukasi kepada masyarakat dinilai krusial untuk mencegah risiko penyakit lanjutan.
Sementara itu, Koordinator Tim Satgas Terpadu dari Labkesmas Banda Aceh, Jontari, dalam sesi paparan menyampaikan bahwa tim gabungan UPT Kemenkes, BBPOM Aceh, serta organisasi profesi PATELKI dan PPNI telah memberikan 1.664 layanan kesehatan di lima kabupaten/kota wilayah intervensi.
“Dalam pelaksanaan kegiatan, tim juga mengidentifikasi 10 penyakit terbanyak serta 10 penyakit dengan potensi KLB sebagai dasar penguatan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit,” demikian disampaikan dalam laporan kegiatan.
Temuan ini menegaskan bahwa ancaman kesehatan pascabencana tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga berpotensi berkembang menjadi krisis kesehatan jika tidak diantisipasi secara sistematis dan terkoordinasi.
Melalui Monev ini, BBPOM Aceh bersama Tim Satgas Terpadu berharap dapat memperkuat sistem respons bencana, meningkatkan efektivitas pengendalian penyakit, serta memastikan perlindungan kesehatan masyarakat, termasuk keamanan obat dan makanan, tetap terjaga secara optimal.
Hasil evaluasi ini diharapkan menjadi pijakan strategis dalam memperkuat kesiapsiagaan Aceh menghadapi potensi bencana dan dampak kesehatannya di masa mendatang.











Discussion about this post