MediaNanggroe.com – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terus mendorong penguatan produk lokal Aceh agar mampu bersaing di tingkat nasional hingga global. Melalui kegiatan Peningkatan Literasi Regulasi Obat Bahan Alam, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik yang digelar di Aula Balai Besar POM Banda Aceh, Selasa (11/11/2025), BPOM bersama Pemerintah Aceh berkomitmen memperkuat kapasitas pelaku usaha dan koperasi dalam memproduksi produk yang aman, bermutu, dan berdaya saing.
Direktur Standardisasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik, Dian Putri Anggraweni, S.Si, Apt., M.Farm, membuka kegiatan tersebut secara resmi dan turut menyerahkan sertifikat Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) kepada pelaku usaha lokal. Dalam sambutannya, Dian menegaskan bahwa BPOM tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga pendamping dalam pengembangan potensi daerah.
“Kami datang ke Aceh bukan hanya untuk mengawasi, tetapi juga membantu produk lokal agar bisa berkembang, tidak hanya di pasar nasional, tapi juga mampu menembus ekspor,” ujar Dian.
Ia menambahkan, potensi alam Aceh seperti rempah-rempah, kopi, dan bahan herbal merupakan sumber unggulan yang layak dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi. BPOM, kata Dian, siap memberikan panduan dan aturan agar produk-produk tersebut aman, bermutu, dan memiliki izin edar resmi.
“Kalau sudah ada izin BPOM, masyarakat akan yakin dan percaya bahwa produk itu aman dan berkualitas. Ini bagian dari membangun kepercayaan publik dan memperkuat ekonomi lokal,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala BPOM Aceh Riyanto, S.Farm., Apt., M.Sc, dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Ia menyebut keberhasilan pengembangan produk lokal tak hanya ditentukan oleh pelaku usaha, tetapi juga oleh sinergi antara pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat.
“BPOM berkomitmen bukan hanya sebagai pengawas, tetapi juga sebagai mitra pembinaan dan pendamping bagi pelaku usaha. Kolaborasi menjadi kunci keberhasilan bersama,” ujar Riyanto.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Direktorat Standardisasi BPOM RI yang hadir langsung dari Jakarta untuk memberikan pembinaan. Riyanto berharap kegiatan ini menjadi momentum bagi UMKM Aceh untuk semakin percaya diri dalam menghasilkan produk berbasis bahan alam yang sesuai regulasi.
Dari Pemerintah Aceh, Plh. Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Aceh dalam arahannya menilai kegiatan ini sangat penting dalam membangun sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga pengawas.
Menurutnya, produk herbal dan suplemen kesehatan berbasis kearifan lokal Aceh memiliki prospek besar di pasar nasional maupun internasional, asalkan memenuhi standar keamanan dan mutu.
“Kita tidak hanya bicara halal, tapi juga sehat. Dua hal ini harus berjalan beriringan. Melalui pelatihan dan literasi seperti ini, kami berharap UMKM Aceh dapat menghasilkan produk yang berkualitas, legal, dan berdaya saing tinggi,” ujarnya singkat.
Ia juga menyebut bahwa Dinas Koperasi terus berkomitmen mendampingi pelaku usaha, termasuk dalam sertifikasi, akses pembiayaan, dan promosi produk unggulan daerah.
Kegiatan yang diikuti pelaku usaha, akademisi, dan pengurus Koperasi Desa Merah Putih dari berbagai gampong di Banda Aceh ini menjadi bagian dari upaya BPOM RI dalam memperkuat ekosistem usaha berbasis bahan alam dan suplemen kesehatan di daerah.











Discussion about this post