MediaNanggroe.com – Peningkatan standar mutu dan keamanan produk kosmetik menjadi keharusan di tengah persaingan industri yang semakin ketat. Karena itu, Balai Besar POM di Banda Aceh mengatakan bahwa penyelenggaraan bimbingan teknis CPKB bagi para pelaku usaha kosmetik, baik dari luar kota maupun Kota Banda Aceh, yang berlangsung selama tiga hari dari tanggal 2-4 Desember 2025, merupakan langkah strategis untuk memastikan setiap pelaku usaha mampu memenuhi regulasi serta menghasilkan produk yang aman, berkualitas, dan terpercaya di pasar.
Kepala Balai Besar POM Banda Aceh, Riyanto, S.Farm., Apt., M.Sc., mengatakan kepada awak media, Selasa 2 Desember 2025, bahwa penerapan Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB) Full Aspek menjadi langkah penting untuk mendorong kemandirian industri kosmetik lokal di Aceh. Melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) CPKB yang digelar BPOM Aceh bersama tim Postcoat Direktorat Badan POM RI selama tiga hari, pelaku usaha diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi, variasi produk, dan daya saing di pasar.
Riyanto menjelaskan bahwa pelaku usaha kosmetik Aceh selama ini masih banyak bergantung pada fasilitas produksi di luar daerah. Dengan pemenuhan standar CPKB Full Aspek, pelaku usaha di Aceh diharapkan dapat memproduksi secara mandiri sehingga tidak perlu lagi berpindah ke Bogor, Jawa, atau daerah lain untuk proses produksi. Menurutnya, kemandirian ini akan memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi daerah melalui aktivitas perdagangan dan peningkatan permintaan produk.
Ia menegaskan bahwa Badan POM tidak hanya menekankan aspek izin, namun juga pendampingan dan pengawasan berkelanjutan.
“Kami mendampingi sampai pelaku usaha memperoleh izin dan setelah produknya beredar tetap dilakukan sampling, pengujian, dan pemantauan. Jika ditemukan ketidaksesuaian, tentu ada teguran hingga tindakan penertiban,” ujarnya.
Selain pada peningkatan kualitas dan keamanan produk, Riyanto juga menekankan pentingnya dukungan lintas sektor untuk mendorong produk lokal berizin menjadi prioritas pasar. Ia berharap produk kosmetik Aceh tidak hanya berkembang secara kualitas, namun juga mendapatkan dukungan pemasaran dari pemerintah daerah sehingga lebih mudah menjangkau konsumen di seluruh Aceh.
Riyanto juga membuka ruang sinergi dengan sektor lain karena penguatan produk lokal bukan hanya terbatas pada kosmetik.
“Bukan hanya kosmetik, pangan, minuman, dan jamu juga harus kita dukung. Kalau ada yang diproduksi lokal dan memenuhi syarat, produk itu yang harus menjadi prioritas,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa masyarakat Aceh juga diharapkan bangga menggunakan produk daerah sendiri karena aman, berizin, dan mampu menggerakkan ekonomi lokal.
Dengan semangat kemandirian industri, BPOM Aceh memastikan akan terus mendampingi pelaku usaha dari tahap pembinaan hingga keberlangsungan usaha.
“Targetnya sederhana, pelaku usaha hidup, ekonomi berkelanjutan, dan masyarakat senang memakai produk lokal sendiri,” tutup Riyanto.

Kegiatan Bimtek dibuka secara resmi oleh Kepala BPOM Aceh yang diwakili Kepala Bagian Tata Usaha, Marina Kaptriyani, S.T., M.T., di Aula BPOM Aceh. Pembukaan berlangsung singkat dan fokus pada dorongan peningkatan kapasitas pelaku usaha serta penguatan pemahaman mengenai standar produksi kosmetik. Marina menyampaikan harapan agar peserta memanfaatkan forum ini sebagai ruang pembelajaran sistematis untuk memperkuat praktik produksi yang sesuai ketentuan.
Acara pembukaan turut diawali dengan doa bersama dan penyampaian duka cita atas bencana alam yang melanda Aceh dan sejumlah wilayah Sumatra. Pihak penyelenggara dan peserta menyampaikan harapan agar masyarakat terdampak diberi ketabahan dan pemulihan dapat berlangsung cepat. Setelah sesi pembukaan, acara dilanjutkan dengan penyampaian materi teknis penerapan CPKB Full Aspek oleh narasumber dari Badan POM RI dan instansi terkait











Discussion about this post