Bireuen – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Banda Aceh (BBPOM Aceh) melakukan investigasi terhadap dugaan Kejadian Luar Biasa Keracunan Pangan (KLB KP) yang dialami sejumlah siswa penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bireuen, Rabu (17/09/2026).
Dugaan keracunan tersebut mencuat setelah sejumlah siswa SMA Negeri 1 Bireuen mengalami keluhan kesehatan usai mengonsumsi makanan Program MBG. Berdasarkan data awal RSUD dr. Fauziah Bireuen, tercatat 18 kasus. Saat tim BBPOM Aceh melakukan kunjungan langsung ke rumah sakit, jumlah pasien yang terdata bertambah menjadi 21 orang.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, BBPOM Aceh bergerak bersama lintas sektor untuk melakukan investigasi dan penelusuran terhadap kemungkinan sumber kejadian. Tim BBPOM Aceh yang dipimpin Ketua Tim Publikasi dan Komunikasi Informasi Edukasi, Suryani Fauzi, bersama Wardani, turun langsung ke lapangan sejak hari kejadian.
Investigasi dilakukan sebagai bagian dari upaya BBPOM Aceh dalam mendukung pelaksanaan Program MBG, khususnya dalam memastikan aspek keamanan pangan. Dalam kondisi dugaan KLB keracunan pangan, BBPOM Aceh melakukan pengujian terhadap sampel pangan yang disampling oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bireuen untuk membantu proses penelusuran penyebab kejadian.
Rangkaian investigasi yang dilakukan tim BBPOM Aceh meliputi inspeksi sarana dapur SPPG Bireuen Kuala Lancok, penelusuran terhadap proses produksi dan pengelolaan pangan, serta investigasi faktor-faktor yang berpotensi berkaitan dengan terjadinya dugaan KLB KP.
Selain itu, BBPOM Aceh melakukan pengujian terhadap sampel pangan terkait kejadian, berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bireuen, serta melakukan komunikasi dan koordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Bireuen dan pihak SMA Negeri 1 Bireuen.
Tim juga melakukan kunjungan langsung ke RSUD dr. Fauziah Bireuen untuk memantau kondisi siswa yang mendapatkan penanganan medis sekaligus memperoleh informasi pendukung dalam proses investigasi.
“BBPOM Aceh terus berkoordinasi dengan lintas sektor untuk melakukan penelusuran secara menyeluruh terhadap dugaan kejadian ini. Pengambilan dan pengujian sampel menjadi bagian penting untuk membantu mengetahui faktor yang mungkin berkaitan dengan kejadian, sehingga langkah tindak lanjut dapat dilakukan berdasarkan hasil investigasi dan data ilmiah,” ujar Suryani Fauzi.
Berdasarkan informasi awal di lapangan, sejumlah korban mengalami gejala seperti mual dan muntah yang muncul secara mendadak dengan masa inkubasi relatif singkat. Kondisi tersebut mengarah pada dugaan sementara adanya keracunan yang berkaitan dengan toksin bakteri. Namun demikian, dugaan tersebut belum dapat menjadi kesimpulan akhir.
Kepastian mengenai penyebab kejadian masih menunggu hasil pengujian laboratorium serta penelusuran lebih lanjut terhadap berbagai faktor yang berkaitan dengan keamanan pangan.
“Kami mengimbau masyarakat, khususnya orang tua dan pihak sekolah, untuk tetap tenang dan tidak mengambil kesimpulan sebelum hasil investigasi dan pengujian laboratorium selesai. BBPOM Aceh bersama pemerintah daerah akan terus melakukan koordinasi dan menyampaikan informasi sesuai dengan hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan,” lanjut Suryani.
Sebagai langkah kehati-hatian dan pencegahan, distribusi makanan dari SPPG yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut untuk sementara dihentikan hingga proses investigasi dan evaluasi lebih lanjut dilakukan.
BBPOM Aceh juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait untuk memastikan aspek keamanan pangan menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan Program MBG.
“Keamanan pangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan Program MBG. Kami berharap hasil investigasi nantinya dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai kejadian ini dan menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat penerapan keamanan pangan pada setiap tahapan penyediaan dan distribusi makanan,” harap Suryani.
BBPOM Aceh menegaskan bahwa proses investigasi masih berlangsung. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta menunggu hasil resmi dari proses investigasi dan pengujian yang dilakukan oleh pihak berwenang.










Discussion about this post