Pesan tersebut mengemuka dalam Podcast Berbisik (Berbincang Asik Bersama BPOM Aceh) Episode 22 bertema “Pemuda Peduli, Bangsa Terlindungi” yang digelar Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Banda Aceh (BBPOM Aceh), Rabu (28/10/2026), dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98.
Podcast yang dipandu Suhil Alfata itu menghadirkan Kepala BBPOM Aceh, Riyanto, bersama Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Banda Aceh, Reza Kamilin. Keduanya membahas pentingnya keterlibatan pemuda dalam memperkuat pengawasan obat dan makanan, meningkatkan literasi digital, hingga mendorong lahirnya wirausaha muda yang menghasilkan produk aman dan bermutu.
Pemuda Didorong Terlibat dalam Pengawasan
Kepala BBPOM Aceh, Riyanto, menegaskan bahwa pengawasan obat dan makanan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Partisipasi masyarakat, terutama generasi muda, menjadi bagian penting untuk memperluas edukasi dan membangun kesadaran kolektif terhadap keamanan produk.
Salah satu langkah yang dikembangkan Badan POM adalah program Sekolah POM dengan melibatkan ketua OSIS dan pengurus organisasi sekolah sebagai penggerak sosialisasi keamanan obat dan makanan.
“Anak muda juga bisa berperan di situ untuk berkolaborasi dengan kita. Makanya, di Badan POM kita mengembangkan Sekolah POM dengan melibatkan ketua OSIS dan pengurus organisasi sekolah untuk menyosialisasikan obat dan makanan yang aman,” ujar Riyanto.
Menurutnya, generasi muda juga berpeluang dilibatkan sebagai duta edukasi di bidang obat, kosmetik, dan pangan. Dengan kreativitas, jaringan pertemanan, serta kedekatan dengan teknologi digital, pemuda diharapkan mampu menjangkau lingkungan sekolah, perguruan tinggi, hingga komunitas masyarakat.
Langkah ini menjadi penting karena edukasi keamanan produk tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan formal, tetapi juga perlu diperluas melalui lingkungan pergaulan dan media digital yang dekat dengan kehidupan anak muda.
Produk Viral Belum Tentu Aman, BBPOM Perkuat Pengawasan Siber
Tantangan lain yang menjadi perhatian BBPOM Aceh adalah maraknya perdagangan produk melalui platform digital. Produk dengan harga murah, promosi menarik, hingga klaim manfaat berlebihan kerap menjadi daya tarik konsumen, meskipun belum tentu memenuhi persyaratan keamanan dan legalitas.
Riyanto menjelaskan, BBPOM Aceh terus memperkuat pengawasan peredaran obat, kosmetik, dan pangan di ruang digital melalui tim siber dan intelijen yang memantau aktivitas penjualan pada berbagai platform daring.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat, khususnya generasi muda, diminta lebih kritis sebelum membeli maupun menggunakan suatu produk.
“Kita selalu mengingatkan masyarakat untuk menerapkan Cek KLIK, yaitu memeriksa kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa sebelum menggunakan atau mengonsumsi obat dan makanan. Itu sangat penting,” jelas Riyanto.
Penerapan Cek KLIK menjadi salah satu langkah sederhana untuk menghindari risiko penggunaan produk yang tidak memenuhi ketentuan. Pemuda juga diharapkan tidak mudah menyebarkan promosi maupun informasi produk yang belum terverifikasi.
Dengan demikian, generasi muda tidak hanya melindungi dirinya sendiri, tetapi juga dapat menjadi penyambung informasi yang benar bagi keluarga dan masyarakat sekitarnya.
Sementara itu, Kepala Dispora Kota Banda Aceh, Reza Kamilin, menyoroti besarnya potensi generasi muda sebagai kekuatan pembangunan daerah.
Berdasarkan data kependudukan yang disampaikannya dalam podcast, terdapat sekitar 60 ribu penduduk berusia 16–30 tahun di Banda Aceh, atau hampir 22 persen dari jumlah penduduk kota tersebut.
Menurut Reza, besarnya jumlah pemuda harus diiringi pembinaan dan kesempatan untuk berkembang agar potensi tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Pemuda sekarang lebih diuntungkan dibandingkan generasi kami dahulu. Sekarang akses informasi dan internet sangat mudah. Karena itu, anak muda harus lebih bersyukur, dan bentuk syukurnya tentu harus dengan berdaya,” ungkap Reza.
Ia menekankan bahwa kemudahan akses informasi harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas diri, membangun kreativitas, dan menghadirkan pengaruh positif bagi lingkungan.
BBPOM Aceh Buka Pendampingan Gratis bagi Wirausaha Muda
Selain pengawasan dan edukasi konsumen, Podcast Berbisik Episode 22 juga menyoroti peluang kolaborasi BBPOM Aceh dengan Dispora Kota Banda Aceh dalam mendukung pertumbuhan wirausaha muda, khususnya di sektor makanan dan minuman.
Reza mengungkapkan bahwa semakin banyak anak muda di Banda Aceh mulai merintis usaha. Potensi tersebut perlu didukung melalui pendampingan agar pelaku usaha mampu meningkatkan kualitas produk, memahami persyaratan, serta memenuhi ketentuan legalitas sesuai jenis produk yang dipasarkan.
Menanggapi hal itu, Riyanto menyampaikan kesiapan BBPOM Aceh untuk membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memahami persyaratan serta proses pengurusan izin edar sesuai kategori produknya.
“Untuk izin edar sebenarnya tidak terlalu susah. Kita memberikan kemudahan dan pendampingan sampai selesai. Untuk UMKM, biayanya kita gratiskan dan tim kami siap mendukung dari awal sampai akhir,” terang Riyanto.
Ia menjelaskan bahwa kebutuhan perizinan tidak sama untuk seluruh produk pangan. Jenis perizinan ditentukan berdasarkan karakteristik produk, proses pengolahan, dan ketentuan yang berlaku. Karena itu, pelaku usaha perlu berkonsultasi terlebih dahulu agar mengetahui persyaratan yang tepat untuk produknya.
Pendampingan tersebut diharapkan membuka kesempatan lebih luas bagi wirausaha muda untuk mengembangkan usaha secara bertanggung jawab, menghasilkan produk yang aman dan bermutu, serta meningkatkan daya saing produk lokal.
Momentum Hari Sumpah Pemuda ke-98 menjadi pengingat bahwa kontribusi generasi muda terhadap bangsa dapat dimulai dari tindakan sederhana. Mulai dari memilih produk yang aman, memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, hingga mengingatkan orang-orang terdekat agar lebih cermat dalam menggunakan obat dan makanan.
Melalui Podcast Berbisik Episode 22, BBPOM Aceh menegaskan pentingnya membangun generasi muda yang tidak hanya cakap memanfaatkan teknologi, tetapi juga kritis terhadap informasi, peduli terhadap kesehatan, dan berani mengambil peran dalam melindungi masyarakat.
Kolaborasi BBPOM Aceh, Dispora, dan generasi muda diharapkan mampu memperluas literasi keamanan obat dan makanan sekaligus mendorong lahirnya wirausaha muda yang bertanggung jawab.










Discussion about this post