Capaian tersebut terdiri atas transaksi penjualan produk UMKM sebesar Rp3 miliar dan business matching senilai Rp13,71 miliar. Selain itu, kegiatan ini turut memfasilitasi penyaluran pembiayaan UMKM sebesar Rp1,5 miliar.
Rangkaian capaian tersebut menunjukkan besarnya potensi kolaborasi antara pelaku usaha, lembaga keuangan, pemerintah, dan masyarakat dalam mendorong pengembangan UMKM serta memperkuat perekonomian Aceh.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, mengatakan capaian Meuseuraya Festival 2026 merupakan hasil sinergi berbagai pihak dalam mendukung pengembangan UMKM di Aceh.
“Kami berharap berbagai peluang usaha, akses pasar, dan pembiayaan yang telah terbuka melalui Meuseuraya Festival dapat terus berlanjut, sehingga UMKM Aceh semakin berdaya saing dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian daerah,” ujar Agus.
Festival tersebut melibatkan 150 pelaku UMKM dari sektor makanan dan minuman, wastra dan kriya, serta perawatan tubuh (body care). Produk-produk lokal dipamerkan melalui Galeria Wastra Indatu yang berkolaborasi dengan Dekranasda se-Provinsi Aceh, pameran wastra UMKM, Aroma Seramoe Kopi dan Cokelat, Jajanan Piyoh-Piyoh, bazar kuliner khas Aceh, hingga coffee truck.
Beragam ruang promosi tersebut memberikan kesempatan kepada pelaku usaha untuk memperkenalkan produk, menjangkau konsumen lebih luas, dan membuka peluang pemasaran ke pasar domestik maupun mancanegara.
Tidak hanya berfokus pada transaksi dan promosi, Meuseuraya Festival 2026 juga menghadirkan kegiatan edukasi serta literasi yang diikuti 1.900 peserta. Sejumlah agenda yang digelar meliputi Aceh Economic Forum, Pelindungan Konsumen Talk, talkshow UMKM Ekspor, Pesona Wastra Aceh, Bedah Buku, UMKM Business Matching Retail, serta workshop kecantikan (beauty workshop).
Kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas pelaku usaha, sekaligus memperluas pemahaman masyarakat mengenai pengembangan bisnis, perlindungan konsumen, serta literasi ekonomi dan keuangan.
Antusiasme masyarakat juga terlihat dari partisipasi 520 peserta dalam sembilan kompetisi, mulai dari Meuseuraya Idol Cilik, Lomba Masak Meuseuraya Rasa, Lomba Cangkir Barista, Tari Ratoh Jaroe, Tari Rapa’i Geleng, QRIS Dance Competition, lomba mewarnai, Fashion Show Cinta Bangga Paham Rupiah, hingga Ranking 1.
Secara keseluruhan, festival tersebut dikunjungi sekitar 10.000 orang. Pengunjung turut meramaikan berbagai kegiatan pendukung, di antaranya Tabligh Akbar bersama Ustaz Hanan Attaki, donor darah, QRIS Funwalk, Masak Besar Khanduri Meuseuraya, penukaran uang logam, serta beragam hiburan lainnya.
Kehadiran berbagai kegiatan ekonomi, edukasi, dan budaya tersebut memperlihatkan upaya mengintegrasikan promosi produk UMKM dengan pelestarian tradisi Aceh dalam satu agenda yang melibatkan masyarakat luas.
Penguatan ekosistem UMKM juga dilakukan melalui kolaborasi dengan lebih dari 50 pemangku kepentingan di tingkat provinsi dan nasional. Pihak yang terlibat meliputi Pemerintah Aceh, asosiasi, perbankan, Dekranasda kabupaten/kota se-Aceh, desainer, akademisi, agregator, dan komunitas.
Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan dapat memperluas kemitraan usaha, membuka akses pembiayaan dan pemasaran, serta menjaga keberlanjutan pengembangan UMKM di Aceh setelah festival berakhir.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Bank Indonesia Provinsi Aceh bersama Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Aceh, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, dan pelaku UMKM juga menetapkan Kantin UIN Ar-Raniry sebagai zona KHAS (Kuliner, Halal, Aman, dan Sehat).
Penetapan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem kuliner halal, aman, dan sehat di lingkungan perguruan tinggi, sekaligus mendorong penerapan standar yang dapat meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk dan layanan kuliner.
Bank Indonesia Provinsi Aceh bersama para mitra strategis berkomitmen melanjutkan pengembangan UMKM melalui perluasan akses pasar, pembiayaan, dan penguatan kemitraan. Dengan demikian, capaian Meuseuraya Festival 2026 diharapkan tidak berhenti pada angka transaksi selama kegiatan, tetapi berkembang menjadi peluang usaha berkelanjutan yang memberikan manfaat bagi pelaku UMKM dan perekonomian Aceh.










Discussion about this post