MediaNanggroe.com, Banda Aceh – Jangan bangga dulu dengan kualitas pendidikan Aceh yang pernah diklaim ranking 1. Sebuah penelitian membuktikan, ternyata minat baca masyarakat daerah ini sangat rendah. Hanya 0,001. Artinya, dalam 1000 orang Aceh hanya 1 orang yang punya minat baca.
Informasi memprihatinkan itu disampaikan Bunda Literasi Aceh, Ayu Candra Febiola Nazuar, pada acara penobatan Raja dan Ratu Baca di Gedung Perpustakaan Aceh kawasan Lamyong, Banda Aceh, Kamis (13/10/2022). Ia menyampaikan itu agar menjadi perhatian sungguh-sungguh masyarakat dan mulai menggalakkan budaya membaca.
Isteri Pj Gubernur Achmad Marzuki itu menghimbau, ada baiknya mulai saat ini digerakkan minat baca dari kesatuan terkecil masyarakat, yakni keluarga. Hal itu bisa dimulai dengan mengganti kebiasaan memberi hadiah sebagai ungkapan penghargaan atas prestasi dengan memberi buku. “Ganti kado ulang dengan buku,” ujarnya.
Dengan nada canda, ia bertanya kepada bapak-bapak yang hadir di lobi gedung perpustakaan tempat berlangsungnya acara. “Apakah bapak-bapak siap meninggalkan hp dan beralih membaca buku,” tanya ketua PKK Aceh itu.
Sebelum berpidato, ia dinobatkan sebagai Bunda Literasi Aceh pada acara yang sama. Ia mengaku terkejut menerima “jabatan” tersebut. “Tadi, saya pikir hanya hadir untuk menyaksikan penobatan Raja dan Ratu Baca. Ngak taunya saya juga dinobatkan jadi Bunda Literasi,” ujarnya.
Ia berharap, perpustakaan Aceh makin lengkap bahan bacaannya ke depan. Juga layanan dan fasilitas lainnya. “Sehingga orang yang berkunjung jadi betah berlama-lama di perpustakaan,” kata Ayu.
Ia juga menceritakan bahwa budaya baca sudah menjadi kebiasaan turun-temurun dalam keluarganya sejak dulu. Bagi dia, hadiah buku lebih berharga dari yang lainnya.
Ayu mengatakan, perpustakaan menjadi tempat paling nyaman untuk wisata otak. “Perpusatakaan menjadi tempat paling adem untuk menghabiskan waktu di musim panas kalau di luar negeri,” ujarnya.
Kepada Raja dan Ratu Baca yang baru dikukuhkan, ia berharap agar mengembangkan budaya baca di lingkungan keluarga. Kemudian, secara perlahan-lahan makin diperluas, dikembangkan ke lingkungan dan di tengah-tengah masyarakat. “Raja dan Ratu Baca tentu dengan mudah bisa mengajak teman-temannya sesama milenial untuk gemar membaca. Ini yang perlu terus dikembangkan,” ujarnya.













Discussion about this post