BANDA ACEH— Aktivis perempuan, Yulindawati, melayangkan kritik tajam terhadap program Pemerintah Kota Banda Aceh yang diduga menghabiskan anggaran sekitar Rp2 miliar untuk menyelenggarakan event Banda Aceh Colossal Coffee Experience (BACCE) 2026. Ia menilai alokasi anggaran tersebut tidak tepat sasaran di tengah masih banyaknya persoalan perkotaan yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah.
Menurut Yulindawati, penggunaan dana publik dalam skala besar untuk membiayai sebuah event patut dipertanyakan urgensi dan manfaat ekonominya bagi masyarakat luas, khususnya para pelaku usaha lokal.
“Event dibiayai oleh pemerintah, jadi apa gunanya? Kenapa tidak dikasih bantuan modal usaha saja untuk warkop, atau pengusaha kopi agar berkembang usaha kopinya?” ujar Yulindawati dalam keterangannya kepada media ini, 27 Oktober 2026.
Ia menambahkan, di tengah berbagai persoalan lain yang harus diurus oleh pemerintah kota, penyelenggaraan event berbiaya besar justru menimbulkan pertanyaan besar mengenai skala prioritas. Dalam kajian kreativitas, event yang dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah juga dinilai terkesan tidak kreatif dan menyerupai tindakan menghambur-hamburkan uang negara.
Selain itu, Yulindawati turut mempertanyakan status event tersebut yang masuk ke dalam daftar 110 Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (Kemenpar RI). Ia meminta kejelasan apakah penyelenggaraan BACCE 2026 ini turut mendapatkan kucuran anggaran dari pihak Kemenpar RI atau murni bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Sebagai bentuk akuntabilitas kepada publik, Yulindawati mendesak Pemerintah Kota Banda Aceh untuk bersikap transparan terkait rincian penggunaan anggaran Rp2 miliar tersebut. Ia juga meminta pihak berwenang untuk melakukan pemeriksaan guna memastikan akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan dana acara tersebut.











Discussion about this post