MediaNanggroe.com – Petani di wilayah tengah Aceh, khususnya Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, tengah mengalami panen raya cabai. Namun, bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah Aceh dan telah memasuki minggu ketiga berdampak serius terhadap akses jalan dan distribusi hasil pertanian, menyebabkan harga cabai anjlok drastis hingga Rp5.000 per kilogram.
Banjir yang menerjang berbagai kabupaten di Aceh mengakibatkan banyak ruas jalan rusak, terputus, bahkan tidak dapat dilalui kendaraan pengangkut hasil panen. Kondisi ini membuat pasokan cabai dari sentra produksi terhambat, sementara petani tidak memiliki alternatif distribusi yang memadai.
Hal tersebut disampaikan Wen (41), seorang petani cabai di wilayah tengah Aceh, kepada Media Nanggroe.com, Minggu (14/12/2025). Ia mengatakan panen raya yang seharusnya menjadi momentum meningkatkan pendapatan petani justru berubah menjadi kerugian besar.
“Petani di sini sedang panen raya cabai, tapi akibat banjir dan akses jalan yang rusak, harga cabai turun sampai Rp5.000 per kilo. Banyak petani memilih tidak memanen karena tidak cukup untuk membayar upah petik,” ujar Wen.
Ia menjelaskan, dampak banjir membuat petani harus mengangkut cabai menggunakan sepeda motor menempuh jarak puluhan kilometer. Bahkan, sebagian petani terpaksa memanggul hasil panen, termasuk cabai dan komoditas pertanian lainnya, sejauh belasan kilometer karena kendaraan tidak bisa masuk ke kebun.
“Kami membawa cabai pakai roda dua puluhan kilometer. Ada juga yang memangkul cabai dan hasil tani lainnya belasan kilometer. Tapi harga yang kami dapat hanya Rp5.000 per kilogram,” ungkapnya.
Menurut Wen, kondisi banjir yang belum sepenuhnya surut hingga memasuki minggu ketiga semakin memperparah situasi petani. Selain biaya transportasi yang tinggi, risiko kerusakan hasil panen juga meningkat akibat keterlambatan distribusi.
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk membantu petani, baik melalui perbaikan akses jalan darurat, fasilitasi transportasi hasil panen, maupun kebijakan stabilisasi harga di tingkat petani.
“Kami berharap pemerintah mencarikan solusi agar hasil panen bisa diangkut. Mudah-mudahan Aceh kembali normal seperti sediakala,” tutup Wen.













Discussion about this post