MediaNanggroe.com – Bank Indonesia bersama Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menyalurkan bantuan sarana dan prasarana (sarpras) pertanian kepada kelompok tani, kelompok peternak, dan kelompok usaha garam di Kabupaten Aceh Besar, 6 Maret 2026.
Program tersebut merupakan upaya strategis untuk memperkuat ketahanan pangan daerah, meningkatkan produktivitas komoditas unggulan, serta menjaga stabilitas harga pangan di Provinsi Aceh.
Penyerahan bantuan dilakukan oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, bersama Wakil Gubernur Aceh yang diwakili Asisten II Sekretaris Daerah Aceh, T. Robby Irza, serta Wakil Bupati Kabupaten Aceh Besar, Syukri A. Jalil, kepada para ketua kelompok penerima bantuan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Plt Kepala Dinas Pertanian Aceh Besar, anggota DPRK Aceh Besar, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), serta para kelompok penerima manfaat.
Bantuan yang disalurkan meliputi alat produksi pertanian, peralatan pengolahan pakan ternak seperti hammermill dan mixer, fasilitas kandang ayam petelur, hingga sarana pendukung produksi garam.
Wakil Bupati Aceh Besar, Syukri A. Jalil, menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia atas dukungan yang dinilai langsung menyentuh kebutuhan petani dan peternak di lapangan.
Menurutnya, bantuan tersebut tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperkuat kelembagaan kelompok serta membuka peluang kemitraan bagi para pelaku usaha di sektor pertanian dan peternakan.
“Para kelompok tidak hanya hadir sebagai penerima bantuan, tetapi juga sebagai penggerak kemajuan Aceh Besar. Bantuan ini harus dimanfaatkan secara optimal dan dirawat bersama agar manfaatnya berkelanjutan,” ujar Syukri.
Salah satu penerima bantuan, Kelompok Ternak Andalan Mandiri, memperoleh dukungan sarana yang memungkinkan peningkatan kapasitas produksi telur ayam hingga 100 persen serta pengembangan sistem pasokan pakan mandiri yang lebih efisien.
Melalui pengembangan tersebut, kelompok ini diharapkan mampu menjadi model pembinaan bagi kelompok lain guna mengurangi ketergantungan pasokan telur di Aceh dari daerah luar.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, mengatakan penyaluran bantuan sarpras merupakan bagian dari strategi Bank Indonesia dalam mendukung ketahanan pangan dan stabilitas harga.
“Sebagai bentuk kontribusi nyata dalam menjaga stabilitas harga dan meningkatkan kapasitas produksi pangan, Bank Indonesia menyalurkan bantuan sarana dan prasarana kepada kelompok tani dan peternak. Kami berharap bantuan ini dapat mendorong produktivitas sekaligus menjadi model pengembangan klaster pangan yang berdaya saing di Aceh,” kata Agus.
Pemerintah Aceh melalui Asisten II Sekda Aceh, T. Robby Irza, juga menekankan pentingnya penguatan sektor pangan yang memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Ia berharap program serupa tidak hanya dilaksanakan di Kabupaten Aceh Besar, tetapi juga dapat diperluas ke berbagai kabupaten dan kota lain di Aceh.
Selain penyaluran bantuan, kegiatan tersebut juga menghasilkan sejumlah rekomendasi tindak lanjut, di antaranya pengembangan komoditas unggulan berbasis wilayah, penguatan integrasi program melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), pendampingan berkelanjutan kepada pelaku usaha, serta perluasan akses pembiayaan bagi kelompok tani dan peternak.
Sinergi antara Bank Indonesia, Pemerintah Aceh, dan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar diharapkan mampu memperkuat posisi Aceh sebagai salah satu sentra produksi pangan regional, baik pada komoditas beras, telur ayam, produk peternakan, maupun garam.
Program tersebut juga menjadi bagian dari komitmen bersama untuk mendorong kemandirian pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sektor pertanian dan peternakan.













Discussion about this post