ACEH BESAR – Ancaman Kejadian Luar Biasa Keracunan Pangan (KLB KP) menjadi perhatian serius dalam penyelenggaraan program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Banda Aceh bersama Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Banda Aceh memperketat pengawasan terhadap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Aceh Besar.
Pengawasan terpadu yang berlangsung selama dua hari pada Kamis (27/6/2026) itu dipimpin langsung Kepala BBPOM Aceh, Riyanto, bersama perwakilan Labkesmas Banda Aceh, Wahyuna, serta lintas sektor terkait. Fokus utama pengawasan adalah memastikan pangan yang diproduksi dan disalurkan kepada penerima manfaat MBG memenuhi standar keamanan, mutu, dan higiene.
Dalam pemeriksaan tersebut, BBPOM Aceh menitikberatkan pengawasan pada penerapan sistem jaminan keamanan dan mutu pangan, termasuk pengendalian berbagai potensi risiko di lingkungan dapur SPPG. Sementara Labkesmas melakukan pengambilan sampel serta pengujian pangan MBG untuk memastikan makanan yang disajikan aman dikonsumsi.
Kolaborasi dua lembaga ini sekaligus memperkuat pembinaan terhadap pengelola dan yayasan yang menaungi SPPG. Pengawasan, evaluasi, pendampingan hingga pembinaan dapat dilakukan secara terpadu sehingga temuan maupun potensi risiko bisa segera ditindaklanjuti.
Hasilnya, dua dapur SPPG di Aceh Besar memperoleh rating A dan B dari hasil pengawasan BBPOM Aceh. Penilaian tersebut menjadi salah satu rekomendasi dalam proses memperoleh Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Kepala BBPOM Aceh, Riyanto, mengingatkan agar capaian tersebut tidak berhenti pada hasil penilaian, tetapi harus dipertahankan secara konsisten. Ia juga mendorong pengelola SPPG meningkatkan standar keamanan pangan melalui penerapan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP).
“Dua dapur SPPG mendapatkan rating A dan B dari hasil pengawasan BBPOM, sehingga bisa menjadi rekomendasi dalam perolehan sertifikat laik higiene (SLHS). Semoga nantinya bisa konsisten diterapkan dan berkomitmen ke tingkat lebih lanjut dengan menerapkan HACCP, agar kasus atau kejadian menonjol tidak dijumpai di dapur SPPG di Kabupaten Aceh Besar,” ujar Riyanto.
BBPOM Aceh dan Labkesmas menegaskan pengawasan dan pembinaan akan menjadi bagian penting dalam memastikan penyelenggaraan MBG berjalan aman. Sebab, kualitas makanan bukan hanya soal memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga memastikan pangan yang dikonsumsi masyarakat terbebas dari risiko keracunan.
Kepala SPPG dan perwakilan yayasan menyambut positif pengawasan tersebut. Mereka menyatakan siap menindaklanjuti setiap temuan dan catatan perbaikan yang diberikan tim pemeriksa untuk meningkatkan standar keamanan, mutu, dan higiene pangan di dapur SPPG.










Discussion about this post