BANDA ACEH – Masyarakat Pidie dan Lhokseumawe kini tak perlu lagi menempuh perjalanan ke Banda Aceh untuk mendapatkan informasi dan konsultasi terkait obat dan makanan. Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Aceh menghadirkan Anjungan Tele-Yanblik Mandiri (ATM) BPOM di Mal Pelayanan Publik (MPP) kedua daerah tersebut.
Perangkat layanan digital itu diserahkan dan diuji coba BBPOM Aceh bersama Pemerintah Kabupaten Pidie dan Pemerintah Kota Lhokseumawe selama tiga hari mulai Kamis (20/8/2026). Kehadiran ATM BPOM menjadi bagian dari upaya memangkas kendala jarak sekaligus memperluas akses pelayanan publik kepada masyarakat dan pelaku usaha.
Melalui ATM BPOM, masyarakat dapat memperoleh informasi, konsultasi dan layanan terkait pengawasan obat dan makanan secara digital dan real-time melalui MPP. Layanan ini diharapkan menjadi terobosan bagi pelaku UMKM yang selama ini membutuhkan akses langsung terhadap informasi regulasi dan pengawasan produk.
Koordinasi awal dilakukan BBPOM Aceh bersama Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Pidie. Tim BBPOM Aceh diterima Plt. Kepala DPMPTSP Kabupaten Pidie Sri Rahayu bersama Sekretaris DPMPTSP Rita Sulaksmi.
Selain membahas kesiapan integrasi layanan, kedua pihak langsung melakukan uji coba perangkat ATM BPOM sebagai persiapan operasional di MPP Kabupaten Pidie.
“Hadirnya inovasi ATM BPOM ini sangat membantu masyarakat Pidie. Layanan konsultasi obat dan makanan kini menjadi jauh lebih dekat, cepat, dan transparan tanpa terkendala jarak,” ujar Sri Rahayu.
Layanan BPOM Diperluas ke Lhokseumawe
Langkah serupa dilakukan di Kota Lhokseumawe. BBPOM Aceh berkoordinasi dengan DPMPTSP dan Tenaga Kerja Kota Lhokseumawe terkait kesiapan penerapan ATM BPOM di MPP.
Kepala DPMPTSP dan Naker Kota Lhokseumawe Safriadi bersama Sekretaris Amru menyambut penerapan layanan tersebut. Menurut Safriadi, kehadiran layanan BPOM di MPP akan mempermudah pelaku usaha lokal mengakses konsultasi dan informasi mengenai regulasi obat dan makanan.
“Inovasi ini adalah bentuk kolaborasi nyata dalam mempermudah perizinan dan pengawasan produk di daerah. Kami sangat siap mendukung operasional ATM BPOM agar memberikan manfaat maksimal bagi para pelaku usaha lokal,” ungkap Safriadi.
Ketua Tim Pelayanan Publik BBPOM Aceh, Desi Ariyanti Ningsih, memimpin langsung koordinasi, penyerahan sekaligus uji coba ATM BPOM di kedua daerah tersebut.
Desi mengatakan, inovasi itu dirancang untuk memastikan masyarakat di daerah memperoleh akses pelayanan BPOM yang setara tanpa harus terkendala jarak geografis.
“Kami ingin memastikan seluruh lapisan masyarakat, khususnya pelaku UMKM di daerah, mendapatkan akses pelayanan publik yang setara, mudah, dan akuntabel. ATM BPOM hadir untuk menghapus kendala jarak sehingga masyarakat dapat memperoleh layanan informasi dan konsultasi secara lebih praktis melalui Mal Pelayanan Publik,” tutur Desi.
ATM BPOM merupakan layanan digital yang memungkinkan masyarakat mengakses konsultasi, informasi dan pelayanan terkait pengawasan obat dan makanan melalui fasilitas yang tersedia di MPP.
Kehadiran layanan tersebut sekaligus memperluas jangkauan edukasi dan pendampingan BPOM kepada masyarakat serta pelaku usaha di daerah.
Dengan hadirnya ATM BPOM di MPP Kabupaten Pidie dan MPP Kota Lhokseumawe, BBPOM Aceh menargetkan pelayanan menjadi lebih cepat, mudah, transparan dan akuntabel. Inovasi ini juga diharapkan memperkuat pendampingan bagi pelaku usaha lokal sekaligus mendorong transformasi pelayanan publik berbasis teknologi di Aceh.











Discussion about this post